Cintaku ke Negara Indonesia takkan pernah luntur!!!!!!!

Hancur hatiku mendengar ketidakadilan mencuat di Negara Kelahirannku sendiri.

Pagi Buta, setelah mendirikan 2 rokaat dan berbincang dengan sang Khaliq, aku membuka sosmed dan melihat berita tentang demo yang dilakukan di gedung DPR Jakarta.



Aku melihat seorang pendemo (atau mungkin bukan seorang pendemo, seorang yang tak sengaja masuk ke dalam kerumunan pendemo) dengan memakai jaket OJOL, tertabrak mobil Baracuda Pribom. Entah si pengendara tak melihat di depan ada seorang nyawa yang tertabrak namun dengan desakan para demonstran yang sangat marah dan tak terkendali, mobil baracudda tersebut melindas orang itu.

Hatinya begitu hancur, kenapa hal tersebut bisa terjadi.

Aku sebagai seorang guru, hanya bisa merenungi dan menatap langit dari dalam ruang kerjaku dan berkata, "Ya Allah, apa yang bisa aku lakukan untuk Negaraku Indonesia?"

Aku pergi ke Jakarta pun tak bisa meninggalkan murid-muridku di sekolah untuk ikut menyuarakan dan berdemo. Hatiku bak teriris-iris saat mengetahui bahwa para DPR tak ada di gedung itu, mereka semua WFH. Bagaimana bisa rakyatmu bersuara, bahkan berteriak-teriak hingga nyawa taruhannya tapi kalian semua bersikap apatis tak mau mendengarkan. Bagaimana bisa kau diberikan nikmat kedua mata dan telinga, tapi tak kau gunakan untuk melihat dan mendengar.

Katanya, Kau semua yang saat ini sedang WFH adalah wakil suara kami????????????

Pagi ini, dengan saksi matahari yang masih terbit, memancarkan cahayanya, menjadi saksi telah terjadi kekejaman di Jl. Penjernihan Jakarta Pusat kepada salah satu OJOL yang menyebabkan hilangnya nyawa.

Tak apalah aku tak bisa bersuara, berdemo disana. Tak apalah suara kecilku, tak di dengar.

Tetapi, mungkin dari profesi yang aku tekuni ini, aku bisa terus menyuarakan bahwa Negara Indonesia ini adalah Negara yang patut terus kita cintai, sayangi, dan pertahankan. 

                                    


Mungkin aku bisa sampaikan kepada Anak-anakku, murid-muridku, Bu guru menitipkan banyak harapan-harapan untuk 10-20 tahun ke depan. Hingga kalian remaja, dewasa, dan bisa duduk di salah satu kursi wakil rakyat. Nak, jadilah pemimpin seperti di era keemasaan Islam, pemimpin yang adil tanpa diskriminasi, jujur, bijaksana, berani membela kepada yang benar, amanah, integritas mengutamakan kesejahteraan rakyat, musyawarah dan kesederhanaan.



Nak, Bu guru akan terus menyakinkan kepada kalian bahwa harapan itu adalah "kalian Nak".

Jangan berhenti mencintai Indonesia.




Komentar